Forget and Forgive

Sejujurnya, ada alasan kenapa gue lama ga ke rumah itu. Rumah itu menyimpan sejuta kenangan. Baik dan buruk. Dan gue berusaha melupakan kenangan buruk yang tercipta di rumah itu. Dan ketika mereka tidak menarik gue dari lingkaran penyesalan atas kenangan buruk itu, gue merasa sendirian. Gue merasa malu. Satu-satunya jalan yang bisa gue pilih adalah menarik diri.

Tapi kemaren gue memutuskan untuk berani menghadapi kenangan buruk gue. Berani menatap rasa malu gue. Mencoba memaafkan rasa sakit (hati) gue. Karena setelah bertahun-tahun, gue masih menyimpan sakit yang tak pernah ketemu closure-nya.

Kemaren gue beranikan diri untuk menyapanya duluan. Menatap matanya ketika menegurnya. Walau keberanian gue hanya sebatas itu. Karena tiba-tiba kenangan buruk, penyesalan dan malu itu kembali muncul. Dan gue merasa kisah kami ga akan ketemu ujungnya karena terlalu rumit, lebih rumit dari benang kusut, tindakan gue udah lebih dari yang mampu gue lakukan.

Apa gue belum bisa move setelah sekian tahun?
Entahlah… Gue cuma ngerasa, karena semuanya berakhir gantung, buat gue sakitnya terasa berlipatganda. Gue merasa ga tau mo berpijak ke mana. Serba salah.

Dan gue ga tau apa yang dia rasa. Karena ternyata gue ga mengenal dirinya. Dia ga membiarkan gue untuk mengenalnya, tepatnya. Gue cuma tertipu ilusi gue sendiri.

Ya udahlah… Udah 2015 nih.. Ga usah inget2 dia lagi ya, Han… Coba aja lupakan kenangan buruk lo itu *talk to myself*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s